Semenjak lahir kita diberikan sebuah program bernama perasaan, perasaan-perasaan tersebut bersifat netral dan belum dipengaruhi oleh apapun, diantara perasaan perasaan yang muncul yaitu perasaan senang, sedih, marah, takut cemas, dan berbagai perasaan lainnya.
Seiring dengan berjalannya waktu melalui pancaindra kita mulai belajar menghubungkan setiap kejadian yang dialami dengan perasaan yang kita miliki, seperti menghubungkan kematian dengan kesedihan, menghubungkan prestasi dengan kebahagiaan, menghubungkan teriakan dengan kemarahan dan sebagainya.
Hubungan itu semakin kuat sehingga terbentuk sebuah mekanisme otomatis dimana jika muncul kejadian, baik itu berasal dari pengalaman masa lalu, kejadian yang sedang dihadapi atau khayalan maka perasaan perasan yang berhubungan dengan kejadian itu akan muncul.
Pernahkah anda melihat atau mengalami dimana ada seseorang termasuk diri Anda yang menangis sedih ketika salahsatu anggota keluarga mereka meninggal? Atau sebaliknya pernahkan Anda pernah melihat seseorang yang justru bangga ketika anaknya meninggal? Bukankah sebuah kejadian memunculkan ekspresi yang berbeda? Mengapa mereka menghubungkan sebuah kejadian yang sama dengan ekpresi perasaan yang berbeda?
Saya pernah memperhatikan bagaimana seorang yang mengekspresikan kematian ibunya, seorang anak kecil usia 3 atau 4 tahun yang terbiasa menangis ketika terjatuh atau ketika digoda kakaknya, menurut saya dia adalah anak yang cengeng karana dia sering menggunakan tangisan sebagai senjata untuk mengkomunikasikan ketidaksukaan dia. Anehya ketika dihadapkan kepada situasi duka, justru dia tidak menangis, melainkan hanya sibuk dengan aktivitas rutin yang dijalaninya, anak itu justru baru menangis ketika melihat setiap orang mengasihaninya, dan selalu menangis ketika mendapatkan berita kematian dari keluarganya.
Dari kejadian itu dia mendapatkan pengetahuan baru, jembatan baru antara kejadian dengan ekspresi perasaan bahwa jika ada sebuah kematian maka hubungannya adalah ekspresi kesedihan, sehingga kelak ketika mengalami hal yang sama secara otomatis dirinya memunculkan perasaan itu.
Namun jembatan itu tidak hanya terhubung dengan kejadian yang saat ini Anda alami, kejadian masa lalu yang Anda ingat kembali atau khayalan kejadian yang Anda alami pun bisa memunculkan perasaan yang sama, persis seperti ketika Anda mengalaminya saat ini. Anda memiliki pikiran yang bisa membawa Anda ke masa lalu, masa sekarang dan khayalan Anda.
Begitu pula dengan ekspresi perasaan perasaan lain, marah, cemas, benci, awalnya bukan sebuah hubungan langsung antara kejadian yang masuk kedalam pikiran dengan perasaan, andalah yang menghubungkan setiap kejadian dengan perasaan perasaan itu, Andalah yang membuat jembatan otomatis antara kejadian dengan perasaan yang Anda miliki.
Karenanya mulailah memilih pikiran yang tepat bagi diri Anda, dan hubungkanlah pikiran dan kejadian itu dengan perasaan yang tepat, Andalah yang mengontrol pikiran dan perasaan Anda. Andalah tuan atas diri Anda sendiri, Andalah yang menentukan nasib Anda.







0 komentar:
Posting Komentar