Bagaimana Tubuh Bersinergi

Secara natural Allah melengkapi manusia dengan hati, dalam hati itulah terinstal berbagai perasaan untuk kebutuhan hidupnya, Cinta, bahagia, malang, sabar, marah, cemas, sukses, lemah dan berbagai perasaan itu sudah tersimpan dan sempurna sejak manusia terlahir.

Agar DOA berbuah LOA

Tentang Doa Doa adalah senjatanya orang yang beriman, begitu kutipan yang saya pernah saya baca, jika dikatakan senjata berarti doa telah menjadi alat untuk memenangkan sebuah pertempuran, dia menjadi tools, sarana, daya ungkit yang menjadikan seseorang dengan mudah melalukan suatu hal.

Telur dan Cangkangnya

Saya punya sepasang burung kenari, yang kebetulan dalam waktu beberapa hari ini sedang mempersiapkan diri untuk mengerami telurnya. Terlihat dari kesibukan pasangan dua sejoli itu menata sarang sebagai tempat untuk menaruh dan mengerami telurnya.

Rahasia Hati

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang ridlo dan diridloi-Nya. Maka masuklah kepada golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah kepada surgaku (Al-Fajr 27-30)

Ubah diri, Ubah Nasib !

Hampir setiap orang tahu bagaimana caranya berubah, dan mengetahui cara-cara untuk mewujudkan setiap keinginan dalam hidupnya. Bagaimana cara bangkit dari keterpurukan finansial, hubungan, akademis, sosial, kesehatan dan sebagainya.

Ryan on Facebook

Klien saya : Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) | Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) | Universitas Diponegoro (UNDIP) | PNPM Purbalingga | PNPM | PNPM Cilacap | PNPM Tegal | PNPM Pemalang | PNPM Pekalongan | PNPM Batang | PNPM Brebes | RUmah Sakit ANANDA Purwokerto | Salon Muslimah SALMA Purwokerto | Griya kerudung ARRAUDHOH | Toko Buku MUTIARA | Toko Buku Gramedia Purwokerto | Rumah Sakit Mitra Ariva Ajibarang | East West Seed, Purwakarta | Bank Muamalat Cabang Purwokerto | Telkomsel | Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas | Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap | Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga | Dompet Sosial Hidayah Klaten
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2011

Words Power (Bagian 4 habis)

Sebelumnya kita telah membahas tentang bagaimana kekuatan kata-kata yang sangat berpengaruh terhadap psikologi dan keberhasilan kita, kita juga mulai memiliki kata-kata, susunan kata dan intonasi dari setiap kata yang kita ucapkan, Ada satu hal lagi yang perlu kita bahas yang kaitannya dengan kata-kata ini, yaitu metafora.

Hidup kita tidak pernah terlepas dari yang namanya simbol, baik berwujud gambar, gerakan tubuh, kata-kata semuanya adalah simbol dari setiap perilaku kita. Semisal apa yang Anda pahami ketika melihat symbol bulan bintang, atau salib? Mungkin Anda mengatakan itu adalah sebuah symbol agama bukan? Bukankah bulan sabit dan bintang adalah symbol biasa, sedangkan salib adalah dua garis yang dibuat bersilang? Lantas bagaimana Anda bisa menghubungkan antara symbol itu dengan agama Anda?

Apa yang anda pahami ketika seseorang mengenggamkan tangan sambil mengacungkan jempol kearah Anda? Bagaimana jika kedua tanggan mengacungkan jempol kepada diri Anda? Lantas bagaimana Anda menafisrkan symbol itu padahal perilaku itu hanya gerakan biasa, bagaimana kita bisa menyebut bahwa acungkan jempol adalah sebuah pujian, sebaliknya ketika jempol itu mengarah ke bawah sebagai tanda hinaan bagi diri kita?

Sepanjang sejarah manusia, symbol-simbol itu telah digunakan untuk memicu respon emosional dan membentuk perilaku manusia. Banyak hal yang menjadi symbol baik gambar, suara, benda, gerakan, tindakan dan tentu saja kata-kata. Nah metafora adalah simbol berupa kata-kata yang berefek emosional bagi diri kita.
Apakah metafora itu? Adalah setiap penejelasan atau komunikasi kita terhadap suatu hal dengan mengibaratkannya dengan sesuatu yang lain, pada saat itu kita menggunakan metafora. Untuk jelasnya, perhatikan kalimat berikut, pernahkah Anda mengatakannya:
  • “kepala saya mau pecah”
  • “saya benar-benar sudah kehabisan akal”
  • “aku berada di persimpangan jalan”
  • “Aku mulai tenggelam”
  • “hidupku seperti berada di neraka”
  • “dindingnya terlalu tebal, aku tak sanggup menerobosnya”
Bukankah semuanya hanya symbol dan bukan kata-kata yang sebenarnya? tetapi bisakah Anda rasakan efeknya bagi diri Anda ketika Anda secara emosional mengatakan salahsatu dari metafora tersebut? ketika Anda mengatakan "kepala saya mau pecah" bukankah metafora itu membawa diri Anda ke sebuah situasi yang tidak mampu Anda kontrol? Bagaimana jika dengan permasalahan yang sama Anda hanya mengatakan "lumayan pusing nih" bagaimana pengaruhnya terhadap psikologi Anda, bisakah Anda merasakan perbedaannya?

Apa yang bisa Anda rasakan ketika Anda mengatakan "hidupku seperti berada di neraka"? bukankah kondisinya begitu sangat mencekan dan sangat membuat diri Anda begitu sangat tersiksa seperti gambaran neraka sebagai tempat dijatuhkannya siksaan? bagaimana jika Anda mengganti kata tersebut dengan kata "hidupku sedang sulit" bagaimana perasaan Anda sekarang? lebih punya harapan kan?

Saya tentu saja tidak untuk mengajarkan bahasa Indonesia dengan bab metafora, namun ingin berbagi dengan diri Anda termasuk para pendidik, bahwa metafora, apa yang kita dapati dalam kehidupan sehari-hari melalui metafora ternyata sangat berpengaruh terhadap emosi diri kita dan anak didik kita, disinilah saya memposisikan diri, agar kita benar-benar bisa menggunakan metafora ini untuk mentransformasi diri kita dan anak didik kita, bukan menghancurkannya melalui ungkapan-ungkapan sederhana bernama metafora.

Apakah yang saya sampaikan ini berlebihan? Untuk mengetahuinya kita harus mengujinya, dan pada kali ini saya juga akan mengajak Anda merasakan bagaimana sebuah metafora yang kita sering katakana begitu sangat berpengaruh terhadap diri kita. semetnara kondisi kita, disitulah awal dari setiap perilaku dan nasib kita seperti yang kita bahas di artikel saya sebelumnya.

Sebagai seorang muslim saya mempelajari bahwa Allah memberikan banyak perumpamaan bagi diri saya, perumpamaan itu sangat sederhana dan menyederhanakan tanpa harus mendapatkan penjelasan yang bisa jadi malah jadi leboh rumit dari apa yang disampaikan itu, saya ambil contoh adalah ungkapan sahabat Muhammad, bernama Abu bakar ketika ditanya apakah takwa itu, dia mengatakan dengan sebuah metafora yang sederhana, dia mengatakan bahwa takwa itu seperti seseorang yang berjalan di dalam ruangan yang gelap dimana diatasny kakinya terdapat duri-duri yang sangat tajam. Bukankah metafora itu adalah sebuah ungkapan yang sangat sederhana dibandingkan jika harus dijelaskan dengan bahasa?

Nah sebagian dari kita disadari ataupun tidak ternyata sering menggunakan metafora dalam kehidupan kita, seperti “saya benar-benar terjepit dalam masalah ini,  namun tak ada satupun yang mau menolong saya. Seolah berada di sebuat tempat yang gelap dan sepi, sementara masalah saya terus mengejar saya, dan saat ini saya benar-benar lelah, bagaimana saya bisa bertahan untuk terus mendaki gunung batu yang sangat terjal ini sementara nafas saya sangat sesak saya harus bertahan untuk tetap tidak tenggelam, sambil berharap ada sebuah keajaiban yang bisa membawa saya terbang keluar dari sakit yang terus datang bertubi-tubi ini”

Bandingkan dengan kumpulan metafora ini: "Saya yakin bahwa hidup seperti roda, kadang diatas kadang dibawah, yang dibutuhkan saat ini adalah sebuah lentera yang mampu menyinari perjalanan hidup menuju kebahagiaan, memang perjalana sangat panjang, tapi untuk menebus sejuknya air surga, merdunya kicauan burung, indahnya pemandangan, lembutnya embun pagi, dan tawa orang orang tercinta, maka tak  ada satupun yang menghadang kita, karena diujung bukit sana akan terhampar sebuah keindahan, disanalah kita menemukan surge, meskipun bukan surga yang sesungguhnya."

Keduanya merupakan sebuah metafora, tentang sebuah kondisi pelik tentang kehidupan yang harus dihadapi, namun jika Anda menyimaknya dengan seksama, membacanya dengan penuh emosional manakah yang paling memberdayakan diri Anda? Yang paling memotivasi Anda yang paling memberikan semangat dalam hidup Anda? Hmmm… tentu sekarang Anda lebih paham mengapa metafora ini perlu kita kaji bukan?

Berhati-hatilah dalam membuat sebuah kalimat metafora, pilihlah istilah metafora yang ringan untuk hal hal yang negatif untuk meringankan efek negatif dari metafora itu, seperti menganti kata marah membara dengan kata "kurang berkenan", "tidak nyaman" dan "tidak suka" dengan demikian metafora itu bisa mengurangi efek emosional dari rasa "mara" tersebut.

Sebaliknya ketika mengungkapkan emosi yang positif, buatlah metafora yang kuat seperti kata "semangat" dengan kata "sangat menggebu", "begitu bergairah", dan sebagainya, dengan demikian perasaan semangat itu menjadi lebih kuat efek emosinya bagi diri Anda..

Semangat Berubah!!!

Jumat, 05 Agustus 2011

Words Power (Bagian 3)

Ijinkan saya berbagi tentang sebuah hasil riset yang dikembangkan oleh Norman Cousins, seorang dokter asal Amerika yang telah memeriksa 2000 pasien. Dia mengatakan bahwa ternyata label-label yang diberikan seorang dokter sangat berpengaruh terhadap kesehatan bahkan jiwa sang pasien. Dalam ceritanya dia menyampaikan bahwa labelisasi kepada seseorang akan menciptakan emosi yang relevan, dan ini terbukti dalam dunia medis.

Dia menguraikan bahwa segala yang pernah dia pelajari dalam bidang psikoneuroimunologi, menguatkan bahwa kata-kata yang digunakan menghasilkan efek-efek biokimiawi yang ampuh. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa jika seorang dokter menyampaikan sebuah diagnosa kepada seorang pasien, ia justru penyakitnya semakin parah. Label seperti “kanker”. “multiple sclerosis” atau kelumpuhan dan “penyakit jantung” cenderung menghasilkan kepanikan pada pasien, membuat mereka tidak berdaya hingga depresi dan akhirnya justru merusak keefektifan system kekebalan tubuh mereka sendiri.

Sebaliknya studi-studi membuktikan bahwa seandainya para pasien bisa dibebaskan dari depresi akibat label tertentu, maka secara otomatis system kekebalan tubuh akan meningkat keefektifannya, kesimpulannya kata kata bisa menimbulkan penyakit, kata-kata juga bisa menyembuhkan! Kata kata juga bisa membuat hidup, namun kata-kata juga bisa mematikan.

Lantas bagaimana sebuah kata bisa mempengaruhi diri kita? Dan bagaimana agar kata-kata dan kalimat yang kita sampaikan justru "menghidupkan" bukan "membunuh" kita? Ada tiga hal yang harus kita perhatikan mulai saat ini, pertama adalah tentu saja pilihan kata, kedua adalah susunan kata yang ketiga adalah intonasi dari setiap kata yang diucapkan, ternyata ketiganya sangat berpengaruh terhadap diri kita, lengkapnya kita bahas satu persatu.

Pilihan kata
Sebelumnya saya sudah sedikit berbagi tentang bagaimana pilihan kata mempengaruhi psikologi dan karakter seseorang, nah di bagian ini kita akan mendalami bagaimana kata-kata yang kita lontarkan begitu sangat berpengaruh kepada diri kita.

Tentu saja setiap kondisi yang kita alami dari hasil interaksi dengan lingkungan dalam kehidupan dapat diekspresikan dengan kata-kata, ambil contoh untuk mewakili situasi senang, kita bisa mengekspresikannya dengan kata bahagia, senang, bangga, ceria dan sebagainya. Namun coba baca kembali secara perlahan sambil resapi kata-kata yang saya sebutkan diatas, bukankah setiap kata memiliki efek psikologis yang berbeda dengan diri Anda? Meskipun semuanya mengekspresikan sebuah kondisi yang sama? Luar biasa bukan?

Sekarang cobalah perhatikan perbandingan kalimat berikut ini:
  • Setengah milyar – 500 Juta mana yang terkesan lebih besar?
  • 1 ton BESi – 1 ton KAPAS, mana yang terkesan lebih berat?
  • Rp 1.000.000 dengan Rp 999.900,- mana yang terkesan lebih murah?
  • MASIH 5 buah dengan TINGGAL 5 buah, mana yang lebih mendesak untuk segera di beli?
Dan sadarkah masih ada jutaan kata dan kalimat lain yang serupa dengan contoh diatas yang disadari atau tidak begitu sangat mempengaruhi diri kita, bagaimana dengan pilihan bahasa kita, sudahkah dipikirkan?

Susunan kata
Yang tidak kalah menarik adalah selain dari pilihan kata, ternyata susunan kata juga begitu sangat mempengaruhi diri kita, susunan kata yang membentuk kalimat tertentu sangat memberikan efek yang luar biasa dalam kehidupan kita.Meskipun terdiri dari kata-kata yang sama namun jika disusun secara berbeda memiliki efek yang berbeda, memang luar biasa kata yang kita miliki, dari 26 susunan huruf, menjadi jutaan kata dan jutaan kalimat, dari jutaan kalimat itu berefek terhadap jutaan kondisi interval emosi yang berbeda bagi diri kita.

Perhatikan perbandingan kata berikut ini:
"Masalah yang saya hadapi teramat sulit, tapi saya bisa menghadapinya"
Bandingkan dengan kalimat berikut ini:
"Saya bisa menghadapi masalah yang saya hadapi, tapi ini teramat sulit"
Bukankah keduanya merupakan ungkapan yang sama tentang besarnya masalah yang dihadapi dan bagaimana sikap kita terhadap masalah tersebut? Mana diantara kedua kalimat itu yang melemahkan diri Anda dan mana yang memberdayakan diri Anda? Semoga Anda memahami apa yang saya maksud dengan tulisan ini.

Perhatikan pula kalimat berikut ini:
“Kamu memang pintar hanya saja kamu tidak bisa memanfaatkan kepandaian kamu untuk membuat kamu berprestasi”
Bandingkan dengan kalimat dibawah ini:
“Kamu memang pintar hanya saja kamu belum bisa memanfaatkan kepandaian kamu untuk membuat kamu berprestasi”
Kedua ungkapan tersebut bermakna sama, bahwa anak didik kita pandai di satu sisi dan dan tidak berprestasi di sisi yang lain, namun kedua kalimat tersebut memiliki efek yang berbeda terhadap ekslorasi potensi siswa kita, sampai sejauh ini bukankah Anda memahami apa yang saya maksud?

Apa kesimpulan yang bisa ambil dari tiga contoh kalimat diatas? Ternyata susunan kalimat yang Anda tulis atau yang Anda sampaikan kepada diri kita sangat berdampak kepada psikologi dan keberhasilan dan tindakan kita.

Intonasi suara
Sering kali saya berkunjung dan memberikan pelatihan ke beberapa sekolah yang dinilai baik dan sangat baik dalam proses kegiatan belajar mengajarnya, yang paling menarik adalah bahwa guru-gurunya dibekali kemampuan dalam mendidik, yang saya maksud dengan kemampuan adalah seringkali mereka para guru dikirim untuk mengikuti berbagai pelatihan peningkatakn kapasitas kemampuan mengajar mereka.

Yang sering saya temui dan menjadi pembeda mereka adalah cara mereka membuka kelas, biasanya diawali dengan pertanyaan apa kabar kalian semua? Serentak muridnya menjawab dengan seragam “luar biasa, dahsyat Allohu akbar” sebuah pemandangan yang unik karena jawaban yang memang beda jika dibandingkan dengan guru-guru di sekolah lain yang cenderung kaku dan to the point.

Namun ternyata kata sapaan itu tidak juga membuat siswa semangat untuk belajar, bahkan ketika sang guru mulai menjelaskan materi pelajaran terlihat wajah mereka yang memunculkan perasaan malas, seolah jawaban mereka hanya standar operational procedures yang dengan terpaksa harus mereka ucapkan. Dan anehnya lagi sang guru pun merasa bahwa apa yang dilakukan dia sudah benar dan sesuai dengan apa yang mereka dapatkan di pelatihan pengajaran.

Pertanyaan saya dan mungkin pertanyaan Anda adalah apakah ada yang salah dengan sapaan apa kabar tersebut ataukah ada yang keliru? Dan bagaimana cara mensikapinya? Jawabannya adalah ada yang keliru dengan intonasinya baik pertanyaan ataupun jawabannya, apakah fatal? Tentu saja fatal jika Anda membiarkan kejadian ini terus menerus dilakukan oleh Anda..

Mungkin bisa jadi Anda telah memilihkan kosakata yang tepat bagi diri Anda, atau bahkan telah memili kalimat yang tepat bagi diri Anda, namun itu belum cukup bahkan tidak jauh lebih penting dari poin yang ke tiga ini INTONASI ! Intonasi lah yang paling berpengaruh besar terhadap kesiapan dan psikologi siswa ANda terhadap semangat belajar mereka, intonasi memegang peranan paling besar ketimbang pilihan atau susunan kata sekalipun.

Anda yang merasa ngantuk akan terperanjat dan langsung segar ketika anda meneriakan kata “ngantuk!” dihadapan teman-teman Anda, sebaliknya kata “luar biasa” akan tampak membosankan jika disampaikan secara perlahan dan nyaris tanpa semangat, anda boleh mencobanya sendiri.

Sekarang apakah kita hanya akan menggunakan kata dan kalimat positif saja sebagai formalitas, ataukah benar-benar memberikan ruh kepada kata-kata tersebut berupa intonasi yang sesuai dengan kebutuhan diri Anda, silahkan Anda jawab sendiri !

Kita lanjut ke bagian empat (selesai)...