Ryan on Facebook

Klien saya : Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) | Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) | Universitas Diponegoro (UNDIP) | PNPM Purbalingga | PNPM | PNPM Cilacap | PNPM Tegal | PNPM Pemalang | PNPM Pekalongan | PNPM Batang | PNPM Brebes | RUmah Sakit ANANDA Purwokerto | Salon Muslimah SALMA Purwokerto | Griya kerudung ARRAUDHOH | Toko Buku MUTIARA | Toko Buku Gramedia Purwokerto | Rumah Sakit Mitra Ariva Ajibarang | East West Seed, Purwakarta | Bank Muamalat Cabang Purwokerto | Telkomsel | Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas | Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap | Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga | Dompet Sosial Hidayah Klaten

Minggu, 11 Desember 2011

Antara Bahagia, Sukses dan Mulia


Mudah mana antara menjadi bahagia atau menjadi orang sukses? Tentu saja lebih mudah menjadi bahagia, kita tidak membutuhkan dukungan luar apapun untuk menjadi bahagia, tidak dengan materi atau tidak dengan mentor sekalipun. Karena rahasia bahagia ada didalam hati. Bahagia itu bukanlah kata, bahagia adalah rasa, ada dalam dada, dan kita tidak membutuhkan apapun untuk mendapatkannya.

Berbeda dengan sukses, butuh parameter untuk mendapatkannya, parameternya ada 3, adalah tujuan yang jelas, ada proses untuk mewujudkannya dan ada manfaat yang didapatkan untuk meraihnya.  Parameter-parameter itu mutlak dan wajib untuk kita lewati agar kesuksesan itu bisa menjadi bagian dari sejarah hidup Anda.

Mulia lain lagi, ada nilai bagi diri dan orang lain atas setiap kesuksesan yang kita dapatkan, lantas apa nilai dari kemuliaan itu? Ketika kesuksesan itu menjadi manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Ketika setiap keberhasilan yang kita capai bernilai manfaat tidak saja bagi diri kita melainkan juga bagi orang lain di sekitar kita. Bukankah kesuksesan yang kita dapatkan selalu ada campurtangan Allah dan orang lain dalam perjalanannya?

Orang bahagia belum tentu sukses, orang sukses juga belum tentu bahagia, orang sukses juga belum tentu mulia, ketiganya adalah hal yang berbeda, seperti rel kereta api sepertinya tampak seperti menyatu dari kejauhan tetapi ketika kita menyusurinya, Bahagia adalah jalannya, sukses adalah tujuannya, dan mulia adalah hasil akhirnya.

Bagaimana caranya Bahagia? so simple hanya mengkondisikan pikiran dan perasaan pada sebuah situasi bersyukur, pasrah menerima setiap keadaan, mengambil hikmah dari setiap kejadian-kejadian tidak butuh apapun, bahkan seorang Bilal sekalipun justru merasakan bahagia dengan beratnya batu yang dihimpitkan diatas perutnya! Bahkan Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara.

Bagaimana caranya sukses? Ini lebih berat, kita butuh tujuan dan kendaraan untuk mewujudkannya, serta keberanian untuk bergerak melakukan rencana dari tujuan hidup kita. Kita harus bangun dari kegagalan dan terus melangkah menyusuri rencana hidup, hingga akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup.

Bagaimana caranya mulia? Ini yang tersulit, mengapa? Karena melibatkan orang lain, kita melakukannya bukan untuk diri sendiri tapi untuk orang lain, kita melakukan sesuatu bukan untuk menerima tetapi member, tentu saja ini hal tersulit dalam hidup, bagaimana mungkin hal yang kita dapatkan akhirnya harus diberikan kepada orang lain? Tentu saja tidak semua orang bisa menerimanya, bukan?

Mana yang lebih penting ? semuanya penting, tidak bisa berdiri sendiri, kita harus memiliki ketiganya. Mungkin sebagian orang hanya berpikir kebahagiaan, tentu saja itu tidak salah, tetapi bukankah bahagia saja bisa berarti sebuah egoisme diri? Hanya berpikir tentang rasa yang ada dalam diri, dan tidak mengoptimalkan sisi lain dari diri, tubuh dan otak untuk berikhtiar mencapai keinginan?

Mungkin orang juga berpikir tentang kesuksesan, ini juga tidak keliru, karena memang diri kita diberikan potensi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita diberikan kebebasan berkehendak serta modal berupa otak, hati dan tubuhn yang dengannya melahirkan motivasi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Bukankah Dia telah berkata: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (QS. Al-Qashshash: 77), sebuah bukti bahwa mengejar kesuksesan adalah keniscayaan.

Begitu pula firmannya: "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan." (QS. An-Nakhl: 5-6) cerminan bahwa diri kita diperkenankan untuk mendapatkan itu semua?

Mungkin orang juga berpikir tentang kemuliaan semata, berpikir hanya untuk berbagi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain, salahkah tentu saja tidak, karena apalagi yang dicari selain kemuliaan hidup dan penghargaan hidup ? bukankah sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?

Bahagia, sukses ataupun mulia adalah tujuan dari setiap orang, secara parsial ataupun integral… namun alangkah indahnya ketika semuanya menjadi sebuah sinergi dalam diri ini, kita bisa bahagia dengan mengkondisikan diri untuk tetap menerima terhadap setiap kenyataan yang ada, kita juga bisa sukses dengan meraih tujuan hidup, dan mulia dengan memberikan manfaat nyata bagi orang sekitar kita.

Dan tentu saja kebahagiaan, kesuksesan dan kemuliaan sejati bukan tentang apa yang ada di sini, tetapi di kehidupan setelah hari ini, yaitu kebahagiaan kesuksesan dan kemuliaan hakiki, dialah surga yang abadi. Pilih mana? kebahagiaan? kesuksesan ? ataukah kemuliaan? Semua pilihan ditangan kita…

0 komentar: