Ijinkan saya berbagi tentang sebuah hasil riset yang dikembangkan oleh Norman Cousins, seorang dokter asal Amerika yang telah memeriksa 2000 pasien. Dia mengatakan bahwa ternyata label-label yang diberikan seorang dokter sangat berpengaruh terhadap kesehatan bahkan jiwa sang pasien. Dalam ceritanya dia menyampaikan bahwa labelisasi kepada seseorang akan menciptakan emosi yang relevan, dan ini terbukti dalam dunia medis.
Dia menguraikan bahwa segala yang pernah dia pelajari dalam bidang psikoneuroimunologi, menguatkan bahwa kata-kata yang digunakan menghasilkan efek-efek biokimiawi yang ampuh. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa jika seorang dokter menyampaikan sebuah diagnosa kepada seorang pasien, ia justru penyakitnya semakin parah. Label seperti “kanker”. “multiple sclerosis” atau kelumpuhan dan “penyakit jantung” cenderung menghasilkan kepanikan pada pasien, membuat mereka tidak berdaya hingga depresi dan akhirnya justru merusak keefektifan system kekebalan tubuh mereka sendiri.
Sebaliknya studi-studi membuktikan bahwa seandainya para pasien bisa dibebaskan dari depresi akibat label tertentu, maka secara otomatis system kekebalan tubuh akan meningkat keefektifannya, kesimpulannya kata kata bisa menimbulkan penyakit, kata-kata juga bisa menyembuhkan! Kata kata juga bisa membuat hidup, namun kata-kata juga bisa mematikan.
Lantas bagaimana sebuah kata bisa mempengaruhi diri kita? Dan bagaimana agar kata-kata dan kalimat yang kita sampaikan justru "menghidupkan" bukan "membunuh" kita? Ada tiga hal yang harus kita perhatikan mulai saat ini, pertama adalah tentu saja pilihan kata, kedua adalah susunan kata yang ketiga adalah intonasi dari setiap kata yang diucapkan, ternyata ketiganya sangat berpengaruh terhadap diri kita, lengkapnya kita bahas satu persatu.
Pilihan kata
Sebelumnya saya sudah sedikit berbagi tentang bagaimana pilihan kata mempengaruhi psikologi dan karakter seseorang, nah di bagian ini kita akan mendalami bagaimana kata-kata yang kita lontarkan begitu sangat berpengaruh kepada diri kita.
Tentu saja setiap kondisi yang kita alami dari hasil interaksi dengan lingkungan dalam kehidupan dapat diekspresikan dengan kata-kata, ambil contoh untuk mewakili situasi senang, kita bisa mengekspresikannya dengan kata bahagia, senang, bangga, ceria dan sebagainya. Namun coba baca kembali secara perlahan sambil resapi kata-kata yang saya sebutkan diatas, bukankah setiap kata memiliki efek psikologis yang berbeda dengan diri Anda? Meskipun semuanya mengekspresikan sebuah kondisi yang sama? Luar biasa bukan?
Sekarang cobalah perhatikan perbandingan kalimat berikut ini:
- Setengah milyar – 500 Juta mana yang terkesan lebih besar?
- 1 ton BESi – 1 ton KAPAS, mana yang terkesan lebih berat?
- Rp 1.000.000 dengan Rp 999.900,- mana yang terkesan lebih murah?
- MASIH 5 buah dengan TINGGAL 5 buah, mana yang lebih mendesak untuk segera di beli?
Dan sadarkah masih ada jutaan kata dan kalimat lain yang serupa dengan contoh diatas yang disadari atau tidak begitu sangat mempengaruhi diri kita, bagaimana dengan pilihan bahasa kita, sudahkah dipikirkan?
Susunan kata
Yang tidak kalah menarik adalah selain dari pilihan kata, ternyata susunan kata juga begitu sangat mempengaruhi diri kita, susunan kata yang membentuk kalimat tertentu sangat memberikan efek yang luar biasa dalam kehidupan kita.Meskipun terdiri dari kata-kata yang sama namun jika disusun secara berbeda memiliki efek yang berbeda, memang luar biasa kata yang kita miliki, dari 26 susunan huruf, menjadi jutaan kata dan jutaan kalimat, dari jutaan kalimat itu berefek terhadap jutaan kondisi interval emosi yang berbeda bagi diri kita.
Perhatikan perbandingan kata berikut ini:
"Masalah yang saya hadapi teramat sulit, tapi saya bisa menghadapinya"
Bandingkan dengan kalimat berikut ini:
"Saya bisa menghadapi masalah yang saya hadapi, tapi ini teramat sulit"
Bukankah keduanya merupakan ungkapan yang sama tentang besarnya masalah yang dihadapi dan bagaimana sikap kita terhadap masalah tersebut? Mana diantara kedua kalimat itu yang melemahkan diri Anda dan mana yang memberdayakan diri Anda? Semoga Anda memahami apa yang saya maksud dengan tulisan ini.
Perhatikan pula kalimat berikut ini:
“Kamu memang pintar hanya saja kamu tidak bisa memanfaatkan kepandaian kamu untuk membuat kamu berprestasi”
Bandingkan dengan kalimat dibawah ini:
“Kamu memang pintar hanya saja kamu belum bisa memanfaatkan kepandaian kamu untuk membuat kamu berprestasi”
Kedua ungkapan tersebut bermakna sama, bahwa anak didik kita pandai di satu sisi dan dan tidak berprestasi di sisi yang lain, namun kedua kalimat tersebut memiliki efek yang berbeda terhadap ekslorasi potensi siswa kita, sampai sejauh ini bukankah Anda memahami apa yang saya maksud?
Apa kesimpulan yang bisa ambil dari tiga contoh kalimat diatas? Ternyata susunan kalimat yang Anda tulis atau yang Anda sampaikan kepada diri kita sangat berdampak kepada psikologi dan keberhasilan dan tindakan kita.
Intonasi suara
Sering kali saya berkunjung dan memberikan pelatihan ke beberapa sekolah yang dinilai baik dan sangat baik dalam proses kegiatan belajar mengajarnya, yang paling menarik adalah bahwa guru-gurunya dibekali kemampuan dalam mendidik, yang saya maksud dengan kemampuan adalah seringkali mereka para guru dikirim untuk mengikuti berbagai pelatihan peningkatakn kapasitas kemampuan mengajar mereka.
Yang sering saya temui dan menjadi pembeda mereka adalah cara mereka membuka kelas, biasanya diawali dengan pertanyaan apa kabar kalian semua? Serentak muridnya menjawab dengan seragam “luar biasa, dahsyat Allohu akbar” sebuah pemandangan yang unik karena jawaban yang memang beda jika dibandingkan dengan guru-guru di sekolah lain yang cenderung kaku dan to the point.
Namun ternyata kata sapaan itu tidak juga membuat siswa semangat untuk belajar, bahkan ketika sang guru mulai menjelaskan materi pelajaran terlihat wajah mereka yang memunculkan perasaan malas, seolah jawaban mereka hanya standar operational procedures yang dengan terpaksa harus mereka ucapkan. Dan anehnya lagi sang guru pun merasa bahwa apa yang dilakukan dia sudah benar dan sesuai dengan apa yang mereka dapatkan di pelatihan pengajaran.
Pertanyaan saya dan mungkin pertanyaan Anda adalah apakah ada yang salah dengan sapaan apa kabar tersebut ataukah ada yang keliru? Dan bagaimana cara mensikapinya? Jawabannya adalah ada yang keliru dengan intonasinya baik pertanyaan ataupun jawabannya, apakah fatal? Tentu saja fatal jika Anda membiarkan kejadian ini terus menerus dilakukan oleh Anda..
Mungkin bisa jadi Anda telah memilihkan kosakata yang tepat bagi diri Anda, atau bahkan telah memili kalimat yang tepat bagi diri Anda, namun itu belum cukup bahkan tidak jauh lebih penting dari poin yang ke tiga ini INTONASI ! Intonasi lah yang paling berpengaruh besar terhadap kesiapan dan psikologi siswa ANda terhadap semangat belajar mereka, intonasi memegang peranan paling besar ketimbang pilihan atau susunan kata sekalipun.
Anda yang merasa ngantuk akan terperanjat dan langsung segar ketika anda meneriakan kata “ngantuk!” dihadapan teman-teman Anda, sebaliknya kata “luar biasa” akan tampak membosankan jika disampaikan secara perlahan dan nyaris tanpa semangat, anda boleh mencobanya sendiri.
Sekarang apakah kita hanya akan menggunakan kata dan kalimat positif saja sebagai formalitas, ataukah benar-benar memberikan ruh kepada kata-kata tersebut berupa intonasi yang sesuai dengan kebutuhan diri Anda, silahkan Anda jawab sendiri !
Kita lanjut ke bagian empat (selesai)...






0 komentar:
Posting Komentar