Ryan on Facebook

Klien saya : Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) | Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) | Universitas Diponegoro (UNDIP) | PNPM Purbalingga | PNPM | PNPM Cilacap | PNPM Tegal | PNPM Pemalang | PNPM Pekalongan | PNPM Batang | PNPM Brebes | RUmah Sakit ANANDA Purwokerto | Salon Muslimah SALMA Purwokerto | Griya kerudung ARRAUDHOH | Toko Buku MUTIARA | Toko Buku Gramedia Purwokerto | Rumah Sakit Mitra Ariva Ajibarang | East West Seed, Purwakarta | Bank Muamalat Cabang Purwokerto | Telkomsel | Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas | Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap | Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga | Dompet Sosial Hidayah Klaten

Rabu, 10 Agustus 2011

Words Power (Bagian 4 habis)

Sebelumnya kita telah membahas tentang bagaimana kekuatan kata-kata yang sangat berpengaruh terhadap psikologi dan keberhasilan kita, kita juga mulai memiliki kata-kata, susunan kata dan intonasi dari setiap kata yang kita ucapkan, Ada satu hal lagi yang perlu kita bahas yang kaitannya dengan kata-kata ini, yaitu metafora.

Hidup kita tidak pernah terlepas dari yang namanya simbol, baik berwujud gambar, gerakan tubuh, kata-kata semuanya adalah simbol dari setiap perilaku kita. Semisal apa yang Anda pahami ketika melihat symbol bulan bintang, atau salib? Mungkin Anda mengatakan itu adalah sebuah symbol agama bukan? Bukankah bulan sabit dan bintang adalah symbol biasa, sedangkan salib adalah dua garis yang dibuat bersilang? Lantas bagaimana Anda bisa menghubungkan antara symbol itu dengan agama Anda?

Apa yang anda pahami ketika seseorang mengenggamkan tangan sambil mengacungkan jempol kearah Anda? Bagaimana jika kedua tanggan mengacungkan jempol kepada diri Anda? Lantas bagaimana Anda menafisrkan symbol itu padahal perilaku itu hanya gerakan biasa, bagaimana kita bisa menyebut bahwa acungkan jempol adalah sebuah pujian, sebaliknya ketika jempol itu mengarah ke bawah sebagai tanda hinaan bagi diri kita?

Sepanjang sejarah manusia, symbol-simbol itu telah digunakan untuk memicu respon emosional dan membentuk perilaku manusia. Banyak hal yang menjadi symbol baik gambar, suara, benda, gerakan, tindakan dan tentu saja kata-kata. Nah metafora adalah simbol berupa kata-kata yang berefek emosional bagi diri kita.
Apakah metafora itu? Adalah setiap penejelasan atau komunikasi kita terhadap suatu hal dengan mengibaratkannya dengan sesuatu yang lain, pada saat itu kita menggunakan metafora. Untuk jelasnya, perhatikan kalimat berikut, pernahkah Anda mengatakannya:
  • “kepala saya mau pecah”
  • “saya benar-benar sudah kehabisan akal”
  • “aku berada di persimpangan jalan”
  • “Aku mulai tenggelam”
  • “hidupku seperti berada di neraka”
  • “dindingnya terlalu tebal, aku tak sanggup menerobosnya”
Bukankah semuanya hanya symbol dan bukan kata-kata yang sebenarnya? tetapi bisakah Anda rasakan efeknya bagi diri Anda ketika Anda secara emosional mengatakan salahsatu dari metafora tersebut? ketika Anda mengatakan "kepala saya mau pecah" bukankah metafora itu membawa diri Anda ke sebuah situasi yang tidak mampu Anda kontrol? Bagaimana jika dengan permasalahan yang sama Anda hanya mengatakan "lumayan pusing nih" bagaimana pengaruhnya terhadap psikologi Anda, bisakah Anda merasakan perbedaannya?

Apa yang bisa Anda rasakan ketika Anda mengatakan "hidupku seperti berada di neraka"? bukankah kondisinya begitu sangat mencekan dan sangat membuat diri Anda begitu sangat tersiksa seperti gambaran neraka sebagai tempat dijatuhkannya siksaan? bagaimana jika Anda mengganti kata tersebut dengan kata "hidupku sedang sulit" bagaimana perasaan Anda sekarang? lebih punya harapan kan?

Saya tentu saja tidak untuk mengajarkan bahasa Indonesia dengan bab metafora, namun ingin berbagi dengan diri Anda termasuk para pendidik, bahwa metafora, apa yang kita dapati dalam kehidupan sehari-hari melalui metafora ternyata sangat berpengaruh terhadap emosi diri kita dan anak didik kita, disinilah saya memposisikan diri, agar kita benar-benar bisa menggunakan metafora ini untuk mentransformasi diri kita dan anak didik kita, bukan menghancurkannya melalui ungkapan-ungkapan sederhana bernama metafora.

Apakah yang saya sampaikan ini berlebihan? Untuk mengetahuinya kita harus mengujinya, dan pada kali ini saya juga akan mengajak Anda merasakan bagaimana sebuah metafora yang kita sering katakana begitu sangat berpengaruh terhadap diri kita. semetnara kondisi kita, disitulah awal dari setiap perilaku dan nasib kita seperti yang kita bahas di artikel saya sebelumnya.

Sebagai seorang muslim saya mempelajari bahwa Allah memberikan banyak perumpamaan bagi diri saya, perumpamaan itu sangat sederhana dan menyederhanakan tanpa harus mendapatkan penjelasan yang bisa jadi malah jadi leboh rumit dari apa yang disampaikan itu, saya ambil contoh adalah ungkapan sahabat Muhammad, bernama Abu bakar ketika ditanya apakah takwa itu, dia mengatakan dengan sebuah metafora yang sederhana, dia mengatakan bahwa takwa itu seperti seseorang yang berjalan di dalam ruangan yang gelap dimana diatasny kakinya terdapat duri-duri yang sangat tajam. Bukankah metafora itu adalah sebuah ungkapan yang sangat sederhana dibandingkan jika harus dijelaskan dengan bahasa?

Nah sebagian dari kita disadari ataupun tidak ternyata sering menggunakan metafora dalam kehidupan kita, seperti “saya benar-benar terjepit dalam masalah ini,  namun tak ada satupun yang mau menolong saya. Seolah berada di sebuat tempat yang gelap dan sepi, sementara masalah saya terus mengejar saya, dan saat ini saya benar-benar lelah, bagaimana saya bisa bertahan untuk terus mendaki gunung batu yang sangat terjal ini sementara nafas saya sangat sesak saya harus bertahan untuk tetap tidak tenggelam, sambil berharap ada sebuah keajaiban yang bisa membawa saya terbang keluar dari sakit yang terus datang bertubi-tubi ini”

Bandingkan dengan kumpulan metafora ini: "Saya yakin bahwa hidup seperti roda, kadang diatas kadang dibawah, yang dibutuhkan saat ini adalah sebuah lentera yang mampu menyinari perjalanan hidup menuju kebahagiaan, memang perjalana sangat panjang, tapi untuk menebus sejuknya air surga, merdunya kicauan burung, indahnya pemandangan, lembutnya embun pagi, dan tawa orang orang tercinta, maka tak  ada satupun yang menghadang kita, karena diujung bukit sana akan terhampar sebuah keindahan, disanalah kita menemukan surge, meskipun bukan surga yang sesungguhnya."

Keduanya merupakan sebuah metafora, tentang sebuah kondisi pelik tentang kehidupan yang harus dihadapi, namun jika Anda menyimaknya dengan seksama, membacanya dengan penuh emosional manakah yang paling memberdayakan diri Anda? Yang paling memotivasi Anda yang paling memberikan semangat dalam hidup Anda? Hmmm… tentu sekarang Anda lebih paham mengapa metafora ini perlu kita kaji bukan?

Berhati-hatilah dalam membuat sebuah kalimat metafora, pilihlah istilah metafora yang ringan untuk hal hal yang negatif untuk meringankan efek negatif dari metafora itu, seperti menganti kata marah membara dengan kata "kurang berkenan", "tidak nyaman" dan "tidak suka" dengan demikian metafora itu bisa mengurangi efek emosional dari rasa "mara" tersebut.

Sebaliknya ketika mengungkapkan emosi yang positif, buatlah metafora yang kuat seperti kata "semangat" dengan kata "sangat menggebu", "begitu bergairah", dan sebagainya, dengan demikian perasaan semangat itu menjadi lebih kuat efek emosinya bagi diri Anda..

Semangat Berubah!!!

0 komentar: