Ryan on Facebook

Klien saya : Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) | Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) | Universitas Diponegoro (UNDIP) | PNPM Purbalingga | PNPM | PNPM Cilacap | PNPM Tegal | PNPM Pemalang | PNPM Pekalongan | PNPM Batang | PNPM Brebes | RUmah Sakit ANANDA Purwokerto | Salon Muslimah SALMA Purwokerto | Griya kerudung ARRAUDHOH | Toko Buku MUTIARA | Toko Buku Gramedia Purwokerto | Rumah Sakit Mitra Ariva Ajibarang | East West Seed, Purwakarta | Bank Muamalat Cabang Purwokerto | Telkomsel | Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas | Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap | Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga | Dompet Sosial Hidayah Klaten

Kamis, 04 Agustus 2011

Words Power (Bagian 2)

Dengan kata-kata, lewat cara itulah diri kita menyampaikan sebuah informasi (termasuk pelajaran) kepada orang lain dan siswa Anda. Secara terus menerus, selama bertahun tahun kepada setiap generasi. Pernahkan Anda mengevaluasi atau meneliti seberapa efektif kata-kata yang Anda sampaikan itu berubah menjadi sebuah perilaku positif yang mengantarkan orang sekitar dan murid-murid Anda kepada kesuksesan dalam kehidupan nyata mereka?


Pernah pulakah diri kita mengevaluasi dan meneliti, adakah kata-kata yang kita sampaikan selama berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun dari generasi ke generasi sekang berubah menjadi nilai-nilai kehidupan dan keyakinan yang buruk bagi diri mereka?

Jika ilmu yang anda sampaikan adalah amal jariyah bagi kehidupan setelah kematian kita bukankah kata-kata buruk juga menjadi pemberat timbangan keburukan kita? Apa yang terjadi jika kata-kata buruk itu menjadi nilai inti mereka dan terus mereka ajarkan kepada anak dan keturunan mereka? Bukankah itu akan memberatkan pertanggungjawaban kita dihadapan Allah?

Pernah saya berkunjug ke sebuah sekolah untuk membuat sebuah kesepakatan pelatihan bagi siswa-siswi yang beberapa bulan lagi akan menghadapi Ujian Nasional, kebetulan saat itu saya disambut oleh salahsatu wakil kepala sekolah yang sepintas saya melihat dia begitu sangat dekat dengan anak didiknya. Disela-sela perbincangan saya dengan salahsatu wakil kepala sekolah itu, tiba-tiba dia menoleh ke salahsatu anak didiknya dan memanggilnya dengak perkataan seperti ini, “hey bolor, sini bentar, tolong ambilkan buku bapak disana!” spontan anak-anak lain yang mendengar teriakan itu tertawa terbahak-bahak sementara si”bolor” terlihat tersipu malu. Sayapun ikut tertawa tanpa mengetahui makna apa dibalik kata itu.

Belakangan saya baru tahu bahwa kata “bolor” adalah sebuah istilah atau panggilan bagi seseorang yang berkacamata tebal, nah yang jadi persoalannya adalah apa yang terjadi dengan anak itu di kemudian hari? Apakah anak itu akan PD dengan kacamatanya? Apakah dia akan semangat berangkat ke sekolah? Dan bagaimana kehidupan dia selanjutnya dengan keadaan dia yang “bolor” itu ? akankah dia PD dengan dirinya dan segala sesuatu yang melekat pada dirinya? Bagaimana ketika dia menghadapi wawancara kerja dan tantangan hidup lainnya? Hanya dengan satu kata yang kita ucapkan? Lantas bagaimana dengan kata-kata kita yang lain? Yang disadari atau tidak kita sadari? Berapa ribu siswa yang sudah kita ajar? Bagaimana kehidupan mereka setelahnya?

Padahal bukankah Afghan adalah seorang yang berkacamata? Dan dia justru sangat PD dengan kacamata tebalnya? Merasa gagah dan tampan dan jadi idola para wanita? Mengapa dia seperti itu? Karena kacamata bagi dirinya adalah sebuah penghargaan, sebuah nilai positif, sebuah keyakinan bahwa kacamata adalah daya tarik bukan sebuah kekuarangan. Well? Sekarang kita memahami bagaimana hubungan antara kata-kata terhadap takdir kita bukan?

Bersambung lagi...

0 komentar: