Anggapan itu turun temurun diisukan
oleh para bujangan sehingga menambah ketakutan untuk menikah. Namun anehnya justru
isu itu hanya beredar dikalangan yang belum menikah saja tetapi tidak pernah
terbukti di kalangan mereka yang sudah menikah.
Dengan alasan itulah saya mencoba menulis
catatan ini, biar jelas dan tidak ada lagi pria single yang ragu untuk segera
menikah, dan semakin sedikit dari para wanita yang tersakiti hatinya gara-gara
pria yang dicintainya takut menikahinya dengan alasan finansial.
Sejauh pengalaman saya selama 5
tahun menikah, saya menyimpulkan menikah itu murah tapi bukan murahan, nikah
itu mudah dan memudahkan. Memang seperti itulah kenyataannya, Hadis Rasul
tentang sebaik-baik wanita adalah yang paling murah maharnya, adalah bukti
bahwa menikah itu MURAH. Sejarah pernah menyebutkan bahwa nabi menyuruh umatnya
untuk menikah meski dengan mahar cincin yang terbuat dari besi, bukti kembali
bahwa menikah itu MUDAH
Namun bukan berarti dengan mudah
dan murahnya sebuah pernikahan itu lantas para pria memberi mahar yang murah
dan tak bernilai, Rasulullah saja memberikan 1000 unta untuk dijadikan mahar
atas pernikahan dirinya dengan Khadijah, wanita yang paling dicintainya.
Tujuannya adalah agar Anda para pria memiliki Izzah (wibawa) di depan istri dan
mertua Anda!
Namun bukan berarti Anda menunda
menikah dan menunggu hingga punya 1000 unta untuk sebuah pernikahan gara-gara
mempertahankan Izzah di depan manusia, karena pada kenyataannya Izzah seorang
laki-laki yang menafkahi keluarga dan mensucikan tinggi dengan menikah lebih
tinggi ketimbang mereka yang masih melajang.
Menurut saya semakin muda seseorang
menikah itu semakin baik. jika seandainya saya bisa kembali ke masa lalu,
justru saya ingin menyegerakan menikah hingga di awal-awal semester kuliah,
lebih asyik kayaknya. Pacaran halal, bener-bener menikmati gelora muda dengan
pasangan yang sah tanpa terjebak dosa melainkan justru bernilai ibadah,
asiknya…
Sebenarnya memang nyatanya menikah
itu mudah dan murah, hanya kita dan budaya yang membuatnya terkesan sulit dan
mahal. Kita dan orang tua kita sering menetapkan sebuah standar yang tinggi dan
rumit, seperti menetapkan standar pasangan, tema pernikahan, konsep acara
resepsi, kostum yang digunakan, semuanya serba dibuat rumit, padahal
pertimbangan itu sama sekali pertimbangan yang tidak berdasar.
Rasulullah hanya menegaskan bahwa
menikah itu karena 4 hal, penampilan, kekayaan, keturunan dan agama. Dan dengan
pilihan yang ke 4 saja, yaitu agama, tiga pilihan sisanya bisa diabaikan. Dan kalaupun
ingin mendapatkan pasangan dengan dengan 4 karakter itu ternyata memang gampang
kok.
Mulai saat ini tanamkan bahwa nikah
itu murah dan mudah, bagaimana caranya saya akan berikan sebuah kisah menarik
tentang pengalaman seseorang yang menikah lima tahun yang lalu. Berikut
kisahnya:
Tepat lima tahun yang lalu ada
seorang pemuda yang mantap untuk menikah, mantap karena alasan financial dan
mental. Bagaimana tidak penghasilannya 10 kali lipat dari biaya hidup
bulanannya. Itulah yang menjadikan dia mantap untuk menggenapkan agamanya.
Usianya 25 tahun saat itu, dirasa
secara matang secara mental dan social serta faham bahwa pernikahan merupakan
jalan keluar dari masalah hidup yang ia hadapi. Pada saat itu nikah bukan lagi
perkara sunnah bagi dirinya tetapi perkara wajib hukumnya. Ckckck… semangat 45!
Yang menjadikan seolah wajib adalah
karena banyak wanita yang mengharapkannya, dan beberapa kali terjebak masalah
kegeeran para wanita yang menyangka dia memberikan sinyal “suka” padahal
menurutnya biasa-biasa saja, kegeeran kali ya…?. Dengan keadaan itu, genaplah
alasan bahwa menikah itu wajib bagi dirinya: Spiritual, financial, mental dan
material, semuanya PERFECT!
Ikhtiar pencarianpun dimulai,
beberapa kali gagal dalam prosesnya hingga akhirnya dia mantap dengan sebuah
pilihan, “proposal”pun dilayangkan. Hasilnya? Yup DITOLAK! Alasannya sederhana
si wanita menganggap tidak mungkin
menikah pada saat itu. Alasannya, situasi tidak memungkinkan untuk menerima
pinangan, keluarga yang terkendala akibat bencana gempa 2 bulan yang lalu
ditambah dia memiliki kakak perempuan yang belum menikah.
Dengan elegan si wanita mengatakan,
“silahkan menikah dengan wanita lain saja, untuk saat ini dengan alasan
tersebut saya tidak mungkin menerima Anda”. Apakah si pria kecewa? Ternyata
tidak, justru dia yakin “ini adalah jawaban istikhorohku, DIa belum
mengijinkanku untuk menggenapkan agama, yang
penting Aku sudah berikhtiar dan Allah memiliki kehendak yang berbeda dengan
ikhtiarku”
Apakah ceritanya berakhir di situ?
Ternyata tidak, beberapa hari setelah “penolakan” itu, si pria menerima sebuah
telepon dari seorang wanita yang mengaku guru ngaji dari wanita yang pernah
diajaknya menikah, dia mengatakan bahwa si wanita telah berkonsultasi dengan
ayahnya dan ternyata dia diijinkan, bahkan secara mengejutkan ayahnya meminta
bertemu dan menyarankan menikah di bulan itu juga! GUBRAAK!
Padahal saat itu, sudah pertengahan
bulan, dan kurang dari 20 hari untuk mempersiapkan momen yang sangat berharga
itu. Ada keinginan untuk menolak perintaan itu, tapi ada perasaan takut jika
dirinya dianggap penakut oleh calon mertuanya dan takut jika dia dianggap tidak
bersukur atas permohonan yang diajukan kepada Tuhannya. Sekarang giliran dia
yang bingung “saya siap menikah, tapi kalo
kurang dari 20 hari, apakah orang tua saya mengijinkannya?” akhirnya dia
memutuskan untuk menyampaikan “masalah” barunya itu kepada orang tuanya sambil
memantapkan diri bahwa Allah pasti akan menolongnya.
Disinilah keajaiban baru dimulai,
ketika bertemu dengan “camer”, ditentukanlah tanggal pernikahan. Camer
mengharapkan pernikahan dilangsungkan pada tanggal 25 Agustus 2006, (padahal
saat itu tanggal 7 Agustus 2006), namun dengan syarat tidak pake pesta besar
dan tidak mengundang keluarga terlalu banyak. Alasannya? Agar tidak menyakiti
perasaan tetangga yang berduka karena bencana gempa, juga untuk menjaga
perasaan kakak perempuan yang “terlangkahi” dengan pernikahan mereka. Intinya
adalah pernikahan sederhana namun tetap dalam koridor sunnah.
Lantas bagaimana dengan pendapat
keluarga besarnya? Mendengar berita itu tentu saja keluarga si pria shock
karena kabarnya begitu mendadak, meskipun akhirnya merelakan. Karena mendadak
dan jarak yang sangat jauh, serta kondisi financial keluarga yang sedang tidak
baik, maka keluarga mensyaratkan pernikahan yang sederhana dan itupun tidak
bisa menghadirkan keluarga secara utuh. Akur?
Justru semua alasan itu begitu klop
antara kedua pihak. Akhirnya pernikahan di selenggarakan, pertanyaannya adalah
berapa biaya yang di keluarkan si pria untuk pernikahan itu? Ternyata setelah
di hitung, biayanya hanya sekitar 1,2 juta saja, setengahnya untuk mahar dan
sisanya untuk biaya transportasi. Sebesar itu pula yang dikeluarkan oleh
“camer” untuk membiaya pernikahan anaknya, mengundang saudara dan tetangga
dekat, biaya KUA dan biaya makan seadanya, bener-bener murah meriah.
Pernikahan di selenggarakan di
Kantor Urusan Agama, yang ketika dilihat di atapnya tampak langit biru yang
sangat cerah J
sementara sukuran pernikahan diselenggarakan mirip “kendurian” hanya saja
dengan kondisi yang jauh lebih sederhana dari kenduri. Mantaafff…!
Yakini bahwa Allah itu memberikan
kemudahan bagi hambaNya, dan memberikan solusi sesuai dengan kadar masalahnya.
Memberikan kemudahan bagi hamba yang yang berniat menjaga diri dan
kehormatannya. Yakini saja bahwa
tidaklah semata-mata Allah dan rasulnya memerintahkan umatnya untuk menikah
tanpa ada sebuah kemudahan didalamnya?
Seperti kisah diatas, begitu mudah
dan murah. Ketika seseorang berniat untuk kebaikan dirinya, so apa hikmah lain
di balik kisah pernikahan murah itu? Jangan tunggu saat yang sempurna untuk
menikah karena justru menikah itu meneympurnakan , menikahlah selagi muda,
lepaskan persepsi tentang harapan-harapan calon mertua, semuanya maya sebelum
engkau melakukannya.
Alloh menolong mereka yang
bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, just do it, lakukan saja, biarkan semuanya
terjadi . kalo setelah baca artikel ini masih ada yang mengeluh dan menunda
menikah, pasti ada yang salah dengan isi kepalanya, hehehe…
Sah? saaah... !
Semoga bermanfaat.....






8 komentar:
mantabh..ijin share ya pak..hehe...
Subhanallah...asa udh feeling dr awl ceritanya ne kyanya pengalaman n kisah nyata..^^
izin share yaa..
mantafff gan, maksudnya waktu mau nikah si ikhwannya sudah berpenghasilan 10 x biaya hidup.. sekarang sudah berapa kali kang ...?
Silahkan bagi yang mau share ke yang lain... dengan tetap menuliskan sumbernya ya? semoga bermanfaat !
mantab kang,, izin share ya..!
Mantap gan, sungguh kisah yang inspiratif. jazakumullah Khairan Katsira :)
nice share gan keren infonya, berguna sekali
souvenir pernikahan murah
Posting Komentar